Home » » Maggot

Maggot


Produksi Massal Maggot Untuk Pakan Ikan
Bahan baku utama sumber protein untuk pakan ikan adalah tepung ikan yang cenderung semakin berkurang dan harganya semakin mahal Maggot adalah salah satu bahan baku alternatif untuk mengantisipasi kelangkaan tepung ikan. Perekayasaan ini bertujuan untuk menghasilkan teknik produksi maggot secara massal.

Metoda yang akan dikembangkan adalah teknik pengumpulan telur atau larva maggot dengan cara menyebarkan bungkil sawit fermentasi dalam kenjang ke tempat-tempat di mana black soldier ditemukan. Dari kegiatan ini teruji bahwa produksi maggot dengan cara pengumpulan telur dan larva relatif lebih banyak hasilnya dibandingkan dengan teknik produksi maggot tanpa pengumpulan telur.

Pendahuluan
Latar Belakang
Bahan baku utama pakan ikan yang harganya cukup mahal ialah tepung ikan. Tepung ikan merupakan sumber protein yang berguna dalam memacu pertumbuhan ikan. Bahan baku pakan ini sampai sekarang sebagian besar pengadaanya masih mengandalkan dan kegiatan impor yang kecenderungannya semakinlangka dan harganya juga semakin mahal. Oleh karena itu perlu dicari sumber bahan baku lain pengganti protein non tepung ikan yang diharapkan ketersediaannya mudah serta harganya murah.
Maggot (ulat dan serangga black soldier) merupakan sumber bahan baku protein non tepung ikan yang diharapkan mampu berperan dalam mensuplai protein sesuai dengan kebutuhan ikan. Perolehan bahan ini dapat dilakukan secara budidaya dan dapat diproduksi secara masal. Hewan ini dapat diibaratkan sebagai mesin biologis yang mampu mengeluarkan enzim alami, sehingga bahan organik yang sebelumnya susah dicerna dapat disederhanakan dan besar kemungkinan bahan tersebut dapat jadi mudah dicerna, termasuk oleh ikan (Hem, S. 2005). Selain itu hewan sederhana ini memiliki kandungan antimikroba dan anti jamur, tidak membawa atau agen penyakit, kandungan protein cukup tinggi (30-45%), mengandung asam lemak esensial seperti linoleat dan inolenat, serta memiliki 10 macam asam amino essensial. Keistimewaan lainnya adalah hewan ini mampu hidup relatif cukup lama C ± 8 minggu) serta dalam pembudidayaannya tidak memerlukan teknologi tinggi.

Budidaya Maggot di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi (BBPBATS) hingga tahun 2006 sudah berhasil diproduksi dengan cara menyiapkan media bungkil kelapa sawit (Palm Kernel Meal / PKM) fermentasi yang ditempatkan dalam wadah dengan sumber serangga black soldier (Hermentia illucens) dan alam. Dari beberapa kali produksi hasilnya tidak konsisten dan sulit diprediksi, oleh karenanya metoda budidaya maggot akan disempumakan dengan mengupayakan agar produk maggot lebih terkontrol. Dengan terkumpul telur ini, maka produksi maggot sudah dapat diprediksi dan segi kontinyuitas dan kuantitasnya.
OIeh karenanya, dalam perekayasaan ni akan dilakukan modifikasi dalam pentahapan budidaya maggot, yaitu pada pentahapan setelah proses fermentasi bungkil sawit, akan dilakukan penyebaran media ke berbagai tempat Iingkungan hidup black soldier seperti di taman bunga, kebun dan hutan. Dengan tahapan ini diharapkan serangga ini tertarik, kemudian kawin dan meletakkan telurnya dalam wadah yang sudah disiapkan. Langkah selanjutnya telur tersebut dikoleksi untuk ditetaskan dan diproses sebagaimana pernbudidayaan maggot. Dengan perbaikan mi semua tahapan dalam budidaya maggot diharapkan dapat terukur, sehingga produksi maggot dapat dikendalikan sesuai dengan yang diinginkan.

Tujuan
Menghasilkan bahan baku pakan sumber protein berupa maggot dalam jumlah relatif banyak, untuk dijadikan sebagai substitusi tepung ikan pada pakan ikan.

Target
Diperoleh maggot dalam bentuk tepung ikan sebagai sumber protein hewani dalam penyusunan formula untuk pembuatan pelet/pakan ikan.

Bahan dan Metode

Bahan
Bahan-bahan yang digunakan Serangga black soldier, bungkil kelapa sawit sebanyak 10 ton dan bahan fermentasi.

Alat
Alat-alat yang digunakan antara lain kantong plastik, jolang 100 bh, kandang untuk pemeliharaan serangga black soldier 1 unit, dan drum plastik 10 bh.

Metode
Prosedur dalam kultur massal maggot adalah sebagai berikut :
1. Fermentasi Bungkil Sawit (PKM)
  • Bungkil sawit dimasukkan ke dalam drum plastik, tiap drum diisi sebanyak kurang lebih 50 kg
  • Tambahkan cairan rumen, dan isi perut kambing atau sapi sebanyak 5-10%, campur dengan air sehingga 3 kali lipat dan jumlah bungkil sawit. Isi rumen ini dimaksudkan sebagai sumber mikroba yang diperlukan dalarn proses fermentasi
  • Selama proses fermentasi, drum plastik dalam kondisi terlindung, ditutup rapat. Proses fermentasi dalam kondisi anaerob. Waktu yang diperlukan antara 10-14 hari.
  • Bungkil sawit fermentasi ini digunakan sebagai media untuk menanik black soldier untuk mau menempatkan telurnya, dalam wadah yang sudah disiapkan, karena bahan ini memiliki bau yang khas.
2. Koleksi Telur Maggot
  • Untuk mendapatkan telur maggot, dilakukan dengan cara menempatkan keranjang antara lain bambu, ukuran 30 x 20 x 20 cm yang diisi dengan PKM fermentasi sebanyak 2 kg.
  • Serangga black soldier yang sudah dewasa akan tertarik dengan bau PKM fermentasi kemudian kawin dan menempatkan telumya ke dalam dinding keranjang.
  • Telur yang sudah menempel dalam keranjang bisa dilakukan pemanenan telur atau langsung ditetaskan dan dipelihara sementara waktu dalam keranjang.
3. Budidaya Maggot
  • Telur maggot berada dalam atau maggot kecil yang keranjang selanjutnya dipelihara dalam bak semen ukuran 1 x 1 ,5x I m dan baskom ukuran volume 25 1. Sebagai kontrol dilakukan pula produksi maggot dalam bak semen tanpa dilakukan terlebih dahulu koleksi telur.
  • Pemberian PKM sebagai bahan pakan maggot dilakukan setelah maggot usia 5-14 hari, jumlah pemberian kurang Iebih 3-10% dan biomas maggot, setiap harinya diberikan satu kali.
  • Pemeliharaan maggot berkisar 10-15 hari.
4. Panen Maggot dan Penepungan

  • Panen maggot dilakukan dengan cara memisahkan maggot dengan media kultur, kemudian dibilas dengan air.
  • Maggot selanjutnya dicampur dengan dedak, dengan penbandingan 3 maggot dan 1 bagian dedak. Campuran tersebut selanjutnya dicetak dalam mesin pelet basah. Bahan pakan maggot ini kemudian dikeringkan dengan menggunakan oven pada suhu 60°C. Proses pengeringan memerlukan waktu 12-15 jam.
  • Bahan ini selanjutnya digiling sampai berbentuk tepung halus dengan menggunakan disk meal
  • Tepung magot ini merupakan bahan baku pakan ikan yang kaya dengan kandungan protein, sehingga diharapkan dapat menggantikan atau mensubstitusi posisi tepung ikan dalam pakan.
Waktu dan Tempat
Kegiatan ini dilakukan pada bulan Maret sampai Desember 2007 di Balai Besar Pengernbangan Budidaya Air Tawar Sukabumi,
Hasil dan Pembahasan
Dari hasil kegiatan produksi maggot yang dilakukan dalam baskom dan bak semen dengan diawali koleksi telur, disajikan pada Tabel 1 dan Tabel 2.
Berdasarkan kegiatan perekayasaan ini, bahwa maggot dapat diproduksi dalam wadah terkontrol atau dalam wadah terbuka. Untuk produksi wadah terkontrol melalui tahapan koleksi teltir a(au koicksi larva maggot, melalui penyebaran PKM fermentasi yang disimpan dalam wadah (keranjang) yang ditempatkan di kebun sekitar komplek BBPBAT.

  Dari hasil maggot sebagaimana tersaji pada Tabel 1 dan Tabel 2, bahwa setiap wadah diperoleh maggot sekitar 4-6 kg per baskom, dengan rata-rata konversi PKM (CR) sebesar 2,52. Adapun hasil dari setiap 6 bak semen ( 2 x 1,5 x 1 m) sebanyak 31-44 kg, dengan CR sebesar 2,22.
Konversi PKM menjadi maggot dan bak semen lebih baik dibanding dengarn hasil dari baskom. Hal ini diduga selama pemeliharaan dalam bak semen ada tambahan telur dan serangga black soldier yang tertarik dengan bau PKM fermentasi, sehingga populasi maggotnya bertambah. Kemungkinan lain adalah adanya perbedaan kecepatan tumbuh antara maggot yang dipelihara. secara terbuka dalam bak semen dibanding dengan wadah baskom yang di tempatkan dalam ruangan. Dalam ruang terbuka karena faktor rangsangan sinar matahari dan cuaca mungkin maggot akan lebih cepat tumbuh. Namun dari semuanya itu, terlepas dari kekurangan produksi maggot dalam ruangan terkontrol, mengindikasikan bahwa untuk masa yang akan datang maggot dapat diproduksi secara lebih terukur. Semua faktor untuk memacu peningkatan produksi dapat ditingkatkan dan semua faktor yang menjadi kendala dapat ditekan seminimal mungkin.
Sebagai contoh untuk mendapatkan telur atau larva maggot dapat ditingkatkan dengan cara menyebar keranjang yang berisi PKM fermented ke berbagai kebun dengan waktu yang bersamaan. Adapun faktor hama, seperti burung, tikus, cicak, kadal dan semut dapat dieliminir dalam ruang terkontrol dan menggunakan beberapa obat pembasmi hama.
Dalam perekayasaan ini dilakukan pula kegiatan produksi maggot seperti tahun sebelumnya, yaitu tanpa ada tahapan koleksi telur atau larva maggot. PKM fermentasi langsung disimpan dalam bak semen.
Produksi maggot kontrol (Tabel 3) dibandingkan dengan produksi maggot dengan pentahapan koleksi telur (perlakuan) pada Tabel 1 dan Tabel 2, pada nila CR perlakuan lebih baik dibanding dengan kontrol. Hal ini mengindikasikan bahwa yang berpengaruh terhadap produksi maggot adalab upaya untuk mengkoleksi telur atau larva maggot. Adapun dari hasil produksi pada perlakukan kontrol, untuk mendapatkan telur sangat bergantung kepada black soldier yang berada dalam lokasi tempat PKM fermentasi di tempatkan.

Dalam upaya pemanfaatan maggot sebagai sumber protein hewani untuk alternatif pengganti tepung ikan, telah dilakukan perekayasaan dengan proses sebagai berikut maggot segar dicampur dedak dengan perbandingan 3 banding 1, kemudian digiling dengan menggunakan mesin pellet basah dan selanjutnya dikeringkan pada oven pada suhu 60°C. Setelah kering kemudian digiling halus rnenggunakan mesin disk-mill. Bahan tersebut siap sebagai bahan baku pellet ikan. Karena tepung ini tidak seratus persen maggot, maka diberi istilah sebagai tepung maggot dedak (MD). Hasil analisa proksimat dan bahan tersebut disajikan pada Tabel 4.
Melihat profil proksimat tepung MD cukup memadai sebagai pakan ikan. Kalau melihat kebutuhan nutrien untuk pertumbuhan beberapa ikan, seperti pada ikan nila, mas, patin, gurame dengan kadan protein 25% sudah cukup memadai. Apabila tepung ini akan digunakan sebagai bahan baku pakan, maka bahan ini dapat digunakan sebagai bahan baku untuk sumber protein, karbohidrat dan lemak.

Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
Dari hasil kegiatan ini dapat disimpulkan bahwa untuk produksi massal maggot dapat dilakukan dengan cara produksi maggot secara langsung dan melalui terlebih dahulu pengumpulan telur. Teknik pengambilan telur menunjukkan nilai rasio konversi PKM menjadi maggot relatif Iebih baik dibandingkan dengan teknik secara langsung.
Saran
Dari hasil kegiatan perekayasaan ini disarankan dalam penggunaan maggot sebagai bahan baku pakan atau sebagai pakan ikan sebaiknya dibuatkan dalam bentuk tepung maggot dedak (MD).

 Sumber : BBPBAT, Sukabumi
Kontak : Kantor BBPBAT - Sukabumi Jl. Selabintana No. 37 Sukabumi 43114 Telp. 0266226211, Fax. 0266221762 email: bbpbats37@yahoo.com, info@bbpbat.net www.bbpbat.net

0 comments:

Post a Comment